Selasa, 18 Agustus 2015

Jill the Reaper: Seorang wanita pembunuh misterius di London era 1800-an



Mary Pearcey aka Jill the Ripper
Mungkin sebagian dari kita tidak asing dengan tokoh Pembunuh legendaris asal London yang beraksi pada akhir 1800-an. Tapi tahukah kita dengan sosok berbahaya lainnya yang dikenal sebagai Jill the Ripper?.

Meski hingga saat ini sosok Jack the Ripper diyakini sebagai seorang pria bernama Aaron Kosminski, namun ternyata ada ratusan teori yang membahas perihal siapa sebenarnya sosok pembantai Sadis di London yang tega membunuh para korbannya dengan sangat sadis.

Mary Pearcey lahir pada 1866 dengan nama Mary Eleanor Wheeler dan menghabiskan masa hidupnya di London.
Foto Mary Pearcey
Ia kemudian berkenalan dengan seorang tukang angkut furniture bernama Frank Hogg yang istri dan anaknya dipercaya menjadi korban pembunuhan Pearcey.

Pada Oktober 1890, Istri Frank Hogg mengundang Pearcey makan siang.

Ilustrasi foto Mary Eleanor "Pearcey"
Sore itu, para tetangga melaporkan telah mendengar suara jeritan dari dalam rumah. Sesosok jasad wanita kemudian ditemukan didalam rumah. Pearcey juga dikabarkan terlihat tengah mendorong kereta bayi istri Hogg sementara si bayi ditemukan tewas setelahnya.
 
Ilustrasi kasus pembunuhan Jill the Ripper
Banyak yang menduga bahwa Pearcey adalah sosok Jack the Ripper sebenarnya, bahkan Sir Arthur Conan Doyle, sang pengarang Sherlock Holmes, berpendapat kalau Jack the Ripper bisa saja seorang wanita.

Alasan utama yang mendukung teori tersebut ialah bahwa pada masa itu seorang wanita yang berkeliaran di tempat umum dengan pakaian berlumuran darah, bisa saja disangka sebagai seorang bidan.

Jika kita mengacu pada kondisi Inggris saat itu, dimana gagasan bahwa pembunuh berantai yang ternyata seorang wanita sangat progresif saat itu. Sejauh ini yang kita ketahui bahwa Pearcey adalah Jill the Ripper dan hingga saat ini namanya masih tetap diidentikkan dengan tokoh pembunuh legendaris di London, Jack the Ripper!. (MY)

Jumat, 14 Agustus 2015

Keramik ‘Glowing-in-Dark’ karya seniman Hungaria, Bogi Fabian


Bogi Fabian dan karya seni yang ia buat

“Kita akan dibuat takjub oleh kerajinan keramik yang satu ini, dimana keindahannya akan muncul saat lampu dipadamkan”.

Seorang seniman asal Hungaria bernama Bogi Fabian, senang sekali berkreasi dengan menjadikan segala jenis media sebagai kertas kanvasnya. Mulai dari tembok bangunan hingga tubuh manusia, namun hampir semua hasil karyanya itu memiliki satu kesamaan – keindahannya takkan muncul jika kita pertama kali melihatnya, dan memang itu yang Fabian inginkan – Unsur kejutan!

Tiap bagian koleksi keramik ‘menyala’ yang ia buat memang didesain dengan tujuan khusus, maka tidak aneh jika masing-masing mempunyai bentuk, motif, dan simbol yang berbeda. Menurutnya setiap karya unik yang ia buat berlandaskan cinta dan kesungguhan.
Fabian memang ingin menginspirasi banyak orang dan ingin yang terbaik dari karya-karyanya. Pada kondisi terang, karyanya bagai perhiasan berharga, tapi karakter sebenarnya akan muncul saat keadaan gelap dimana warna-warna terang yang mengagumkan akan membuai siapapun yang mengenakan aksesoris itu menuju ke alam mimpi. Warna-warna terang nan indah yang muncul saat gelap ditiap kreasinya itu akan memberikan ‘inner peace’ kepada siapapun pemakainya dimana cahaya lembut yang dihasilkan akan membuat kita sejenak melupakan kejenuhan akibat rutinitas  seharian
Pada laman Facebook-nya, Bogi menulis “Semua keramik miliknya akan menyala dalam gelap setelah di terangi  sinar sebelumnya. Aku sangat selektif memilih material dan tema, yang akan memberi bentuk, motif, dan simbol yang berbeda. Ada sekitar 13 langkah yang mesti dilalui dalam membuat sebuah karya seni. Tiap bagian mesti dipanggang dalam Oven sebanyak 4 kali dengan suhu antara 800 dan 1150 °C untuk menjadikannya berkilau. Aku membentuk, mengukir, menghaluskan, mengecat dan mengkilapkan tiap karyaku selama proses pembuatannya. Itulah mengapa tak banyak keramik yang aku hasilkan karena masing-masing memiliki bentuk dan keunikan berbeda”.

Apa yang membuat keramik kreasi Fabian sangat indah, yaitu keajaiban yang muncul saat lampu dipadamkan.



Masing-masing memiliki keunikan tersendiri, karena semua dibuat dengan dasar cinta dan kesungguhan.




Ia ingin menginspirasi banyak orang dan ingin yang terbaik dari karya-karyanya



“Bagiku Perhiasan lebih dari sekedar sebuah aksesoris yang ada pada tubuh.”


“Aku sangat selektif memilih material dan tema, yang akan memberi bentuk, motif, dan simbol yang berbeda.”



Perhiasan keramik ini ‘rechargeable’. Mereka mampu menyala dalam gelap selama 50 menit.






Dengan menyorotkan sinar UV ke keramik tersebut, maka kita dapat menikmati keindahannya selama yang kita mau. (MY)

Kamis, 13 Agustus 2015

Ini dia “The Granny Ripper” – Seorang nenek yang membunuh dan memakan para korbannya.



The Granny Ripper

Sebagian dari kita pasti sudah mengenal tokoh pembunuh legendaris asal Inggris, Jack the Ripper. Tapi bagaimana dengan Jill the Ripper?. Nah Lho?.

Seorang nenek berusia 68 tahun yang berasal dari St. Petersburg, ini bisa kita sejajarkan dalam kelompok ‘The Ripper’ (sang pembantai). Nenek yang ternyata seorang pembunuh sadis ini, oleh media Rusia dijuluki ‘The Granny Ripper’.  Tamara Samsonova yang telah ditahan oleh pihak aparat, ini mengaku telah membunuh sedikitnya 11 orang dan juga memakan para korbannya.

Bukan hanya itu saja, Ia juga diduga telah membunuh suaminya sendiri yang ia laporkan hilang sepuluh tahun yang lalu.


Tamara Samsanova menulis secara detail beberapa pembunuhan yang ia lakukan selama beberapa puluh tahun terakhir, didalam buku diary-nya.

Salah satu kisah yang tertulis dalam buku diary sang nenek, menceritakan kejadian pembunuhan 10 tahun yang lalu, yang ternyata modus operandinya cocok dengan kasus yang sama 20 tahun yang lalu.

Diary Samsanova, ditulis dalam tiga bahasa berbeda yang berisi pengakuan atas beberapa pembunuhan.
Diary ditulis dalam bahasa Rusia, Inggris, dan Jerman. Ia bahkan mendetailkan cara ia membunuh para korban.

Bagaimana, sih cara sang nenek membunuh korbannya?. Ternyata semua korbannya adalah temannya sesama nenek-nenek.

‘The Granny Ripper’ membius korbannya dan memotong mereka hidup-hidup menjadi beberapa bagian dengan menggunakan gergaji.

Setelah memutilasi para korban, Samsanova lantas membuang beberapa potongan tubuh keluar kota dengan memasukkannya kedalam kantong.

Polisi juga menyatakan kalau sang nenek  memiliki kesenangan memisahkan paru-paru korban sebelum memakannya.

Kejahatan Samsonova akhirnya ketahuan setelah sahabatnya dilaporkan hilang.  Wanita naas tersebut ternyata menyewa tempat digedung yang sama dengan Samsanova. Rekaman CCTV memperlihatkan seorang nenek pergi meninggalkan gedung dengan membawa kantong plastik yang berat. Kantong plastik tersebut ternyata berisi potongan tubuh korban yang akhirnya menuntun polisi kepada sang pelaku. 

Sebelum membunuh, Samsanova membuat korbannya tidak sadar dengan memberi mereka obat tidur. Tapi bukan obat tidur yang membuat korbannya tewas, melainkan karena kehilangan banyak darah saat Samsanova memotong tubuh mereka hidup-hidup.

Rekaman ‘the Granny Ripper’ saat beraksi.

Ia memang terlihat seperti seorang nenek yang baik, tapi jangan salah.
Diantara tumpukan buku Diary yang ditemukan ditempat sang nenek, juga didapati buku ‘Black Magic’ dan Astrologi. Ia juga meninggalkan gambar simbol astrologi ditubuh para korban. Beberapa berpendapat kalau Samsanova menggunakan tubuh korbannya sebagai media ritual ilmu sesat.

Atas kejadian itu, tidak heran pada akhirnya media Rusia memberi julukan kepada sang nenek, “Baba Yaga”, seorang tokoh penyihir yang ada di cerita dongeng rakyat Rusia. (MY)